Sebuah
keluarga kecil yang hidup kekurangan, keterbatasan ekonomi, dan juga
teramat sederhana. Kepala keluarganya bernama Pak Yohanes, dia
tinggal bersama istrinya bernama Ibu Maria, anak laki-lakinya bernama
Fajar, dan anak perempuannya bernama Nina.
“Bu,
kapan ya aku dan kakak bisa bersekolah lagi seperti dulu ?” tanya
Nina kepada ibunya dengan nada sedikit sedih.
“Adik,
kamu tidak boleh seperti itu, kita bisa makan setiap hari saja sudah
syukur.” kata Fajar menasehati adiknya.
“Kakakmu
benar Nina, kita harus bisa mensyukuri atas apa yang telah diberikan
Tuhan kepada kita, jika kamu ingin sekolah, kamu harus berusaha dan
jangan lupa berdoa kepada Tuhan.” ibu ikut memberi pengertian pada
Nina.
“
Iya bu, sekarang Nina mengerti betapa pentingnya hidup bersyukur.”
Suatu
ketika Fajar dan Nina sedang mengumpulkan botol-botol minuman bekas.
Seoarang teman Fajar dulu saat bersekolah menghampiri Fajar dan
adiknya.
“Hai,
sedang apa kamu dan adikmu ditempat kotor seperti ini ?” kata teman
Fajar yang bernama Cathy.
“Hai
Cathy, aku sedang bekerja untuk mencukupi kebutuhanku dan
keluargaku.”
“Aku
begitu kagum kepadamu Fajar, saat bersekolah dulu kamu selalu
membantu orang tuamu sepulang sekolah. Kamu begitu mandiri, sedangkan
aku hanyalah siswi SMP yang masih manja.”
“Cathy,
kamu tidak boleh berkata seperti itu, aku bekerja karena keluargaku
kekurangan, jika kamu ingin bekerja, untuk apa ? Orang tuamu masih
sanggup membiayaimu dan mencukupi semua kebutuhanmu.”
“Tetapi
orang tuaku selalu meminta aku untuk mandiri.”
“Mungkin
maksud orang tuamu seperti merapikan kamarmu. Walaupun kamu memiliki
pembantu, tetapi kamarmu atau segala sesuatu milik pribadimu perlu
kamu jaga dan rawat sendiri.
Mendengar
perkataan Fajar, Cathy hanya bisa tertegun sambil merenung. “Iya,
mungkin kamu benar. Memang selama ini aku tak pernah peduli terhadap
barang-barangku.”
“Kak
Fajar, ayo sudah sore, kita masih harus bekerja.” kata Nina yang
sedari tadi diam berusaha mengingatkan kakaknya.
Lalu
Fajar dan Nina pun berpamitan pada Cathy, lagipula sudah sore, Cathy
juga harus pulang. Hari sudah malam, keluarga Pak Yohanes hanya bisa
tidur di dalam gubuk kardus yang kecil dengan beralaskan koran,
dingin malam yang menusuk kalbu sudah tak berarti lagi bagi keluarga
itu.
Hari
telah berganti, pagi-pagi buta, Fajar sudah bekerja memulung
botol-botol minuman bekas. Sesekali ia melewati SMP Harapan Bangsa
tempat ia bersekolah dulu. Fajar pun tidak jarang bertemu dengan
teman - teman satu kelasnya dulu. Jika ditanya tentang keadaannya,
Fajar selalu menjawab dengan jujur mengenai kondisi keluarganya.
Ternyata teman- teman Fajar termasuk Cathy merasa iba dan simpati
kepada Fajar dan keluarganya. Mereka berusaha mengumpulkan sumbangan
untuk Fajar berupa uang, pakaian, atau makanan. Itu semua didapat
dari siawa yang menyisihkan uang jajan, berjualan, ada pula yang
meminta tambahan dari orang tua untuk membantu keluarga Fajar
Seminggu
berlalu, Cathy dan kawan-kawan akan menghitung semua hasil jerih
payah mereka selama satu minggu ini dan secara kebetulan Fajar
melewati SMP Harapan Bangsa.
“Fajar.........”
teriak Cathy dan teman-temannya. “Iya, ada apa ?” tanya Fajar
kebingungan.
“Kami
hanya ingin memberikan ini. Walapun hanya pakaian sederahana, makanan
kecil dan sedikit uang. Semoga ini semua bisa sedikit membantu kamu
dan keluarga kamu.” kata Doni.
“Oh
iya, aku juga memiliki baju seragam SD, walapun bekas aku pakai,
tetapi masih bagus, bisa digunakan untuk adik kamu.” kata Tina.
Pada
hari Senin, Fajar dan Nina mulai bersekolah. Bersekolah kembali dan
berkumpul bersama teman-teman. Sepertinya aku tidak ingin lagi
meninggalkan kewajibanku bersekolah sebagai pelajar, Begitulah
kata-kata yang terucap dalam batin Fajar.
Saat
Fajar sampai di ruang kelas, Fajar disambut oleh teman-teman
sekelasnya, “Selamat datang untuk Fajar di kelas 8h....” teriak
Doni, ia adalah ketua kelas 8h. Tidak hanya Doni, teman-teman yang
lain pun ikut menyambut kedatangan Fajar dengan spontan. Fajar
seakan-akan tak dapat berkata-kata lagi. Dia sangat senang dan
terharu atas apa yang telah diberikan teman-temannya. Pelajaran
pertama dimulai. Seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan
bersekolah, ia belajar dengan sangat tekun.
Setelah
bersekolah selama seminggu, ia sering mendapat pujian dari
teman-teman bahkan guru-gurunya. Baik pujian dari nilainya yang bagus
maupun sikapnya yang baik. Begitu pula dengan adiknya Nina. Ia begitu
senang dengan kembalinya dia bersekolah. Nina juga disambut baik
dengan teman-temannya. Tetapi lain halnya dengan Fajar, Nina tidak
begitu memanfaatkan waktu belajarnya di sekolah dengan baik. Ia
tumbuh sebagai pelajar yang biasa-biasa saja.
Hampir
satu semester Fajar bersekolah lagi dan ia telah dikenal banyak guru
dan teman-teman, ia terkenal karena kepandaiannya. Hingga pada suatu
hari, Fajar dipanggil oleh Kepala Sekolah.
“Fajar,
setelah bel masuk, kamu segera ke ruangan Bapak Kepala Sekolah,
beliau ingin bertemu dengan mu.” kata pak Rohman sebagai wali
kelas Fajar.
“Baik
pak, tapi ada apa sebenarnya? Mengapa saya sampai harus berurusan
dengan Kepaala Sekolah ?” Fajar heran bercampur ketakutan.
“Bapak
tidak tahu, tetapi ada hal penting yang ingin dibicarakan bapak
Kepala Sekolah pada kamu.” “Baiklah pak..”
Tepat
pukul 06.30 bel masuk pun berbunyi, semua siswa-siswa ingin memasuki
kelas terkecuali Fajar yang keluar kelas ingin menemui Bapak Kepala
Sekolah. “Fajar, kamu mau kemana, sekarang kan sudah bel masuk,
nanti kamu dimarahi oleh guru jika sudah bel masuk tapi kamu masih di
luar kelas.” kata Doni mengingatkan Fajar. “Aku mau ke ruang
Kepala Sekolah Don. Tadi sebelum bel masuk Pak Rohman memanggil aku
dan menyuruh ku datang ke ruang Kepala Sekolah. Karena Kepala Sekolah
ingin berbicara penting padaku.” “Baiklah, aku rasa itu bukan hal
buruk karna kamu itu anak yang pintar dan baik.” “Oke, Terima
kasih Don, aku pergi dulu..” kata Fajar sambil berjalan menuju
ruang Kepala Sekolah
“Permisi
Pak, selamat pagi” kata Fajar sambil mengetuk pintu ruangan Pak
Heru yang adalah Kepala Sekolah SMP Harapan Bangsa. “Silahkan
masuk.” kata Pak Heru dari dalam ruangan.
“Maaf
Pak, ada apa saya dipanggil keruangan Bapak ?”
“Saya
mau bertanya dan tolong kamu jawab sejujurnya.”
Fajar
hanya tertunduk dan terdian. Ia makin cemas dan tegang, ia takut
mendapat masalah dan tidak bisa bersekolah lagi.
“Dimana
orang tuamu bekerja ?”
“Orang
tua saya hanya bekerja sebagai pemulung Pak.” kata Fajar tertunduk.
“
Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung. Saya dengar dari banyak guru
bahwa kamu anak yang baik, pandai, rajin, dan sopan.”
“Maaf
pak, saya bersekolah disini karna bantuan dari teman-teman saya dan
kerja keras orang tua saya. Saya tidak ingin mengecewakan mereka,
jadi saya berusaha melakukan yang terbaik dengan belajar.”
“Kamu
memang anak yang baik dan pandai. Saya berhak memberikan ini padamu.”
ucap Pak Heru kagum sambil memberikan sebuah gulungan kertas. “Ini
adalah beasiswa untukmu, sekolah akan menanggung semua keperluan
sekolahmu selama kamu bersekolah disini, mungkin jika kamu
berprestasi lebih lagi, sekolah akan membiayaimu sampai kamu SMA.”
“Pak,
apa bapak tidak main-main dengan ucapan bapak ? Saya sangat senang,
karena saya bisa sedikit mengurangi beban kedua orang tua saya.”
“Oh
iya, hampir Bapak lupa. Ini Bapak ada sedikit rejeki, tolong kamu
berikan pada orang tuamu, semoga bermanfaat untuk keluargamu nak.
Titipkan salam Bapak untuk orang tuamu juga.”
“Baik
Pak, sekali lagi saya berterima kasih, saya berjanji akan belajar
lebih giat lagi untuk kedua orang tua saya.”
“Baik,
sekarang kamu boleh kembali ke kelas kamu.”
“Terima
kasih Pak. Selamat pagi.”
Kriiing...
kriiing... kriiing.... Bel pulang telah berbunyi. Siswa-siswi pun
berhamburan keluar kelas memadati pintu gerbang. Fajar pun segera
pulang ke rumahnya, tak sabar ingin memberitahu berita bahagia ini
pada orang tuanya.
“Siang
bu... siang pak...”
“Siang
nak, bapakmu belum pulang. Ada apa ini tidak seperti biasanya, hari
ini nampak lebih ceria.”
“Ibu,
Fajar mendapat beasiswa dari sekolah, yang berarti semua keperluan
sekolah Fajar selama bersekolah akan di penuhi. Bahkan kata Pak
Kepala Sekolah, jika Fajar terus berprestasi, Fajar akan dibiayai
sampai SMA.”
“Wah,
anak ibu memang pandai. Nina harusnya kamu bisa seperti kakakmu.”
“Baiklah
bu, Nina akan belajar supaya bisa seperti kak Fajar.” kata Nina
yang sambil melirik ke Fajar yang sejak tadi tertawa kegirangan.
Hari
sudah sore, Fajar sedang membantu Ibu menjual botol-botol bekas.
Hingga pada malam hari tiba saatnya Fajar belajar di tempat seadanya.
Di rumput beralaskan koran dengan penerangan lilin seadanya. Walaupun
dengan kondisi begitu, itu tidak mematahkan semangat Fajar untuk
belajar.
Lain
halnya dengan Nina, ia masih sedikit malas belajar, mungkin dalam
satu hari ia hanya menghabiskan waktu belajar 2 jam di rumah. Sangat
berbeda jauh dengan Fajar yang kemana-mana selalu membawa buku
pelajaran.
Mentari
pagi mulai bersinar, seperti biasanya setelah bangun tidur, Fajar dan
Nina telah terbiasa berdoa. Setelah itu mereka bergegas mandi,
sarapan lalu berangkat ke sekolah. Karena sekolah Nina dekat, ia
berangkat dengan berjalan kaki. Sedangkan Fajar berangkat naik sepeda
yang baru dibelinya menggunakan hasil dari ia menabung.
Besok
adalah hari pembagian Laporan Hasil Belajar di SMP Harapan Bangsa.
Semua wali murid wajib hadir untuk mengambil LHB milik anaknya
masing-masing. Pada saat pembagian LBH, wali kelas akan mengumumkan
siswa yang masuk peringkat 10 besar.
“
Bu, hari ini ada pembagian LHB, lebih baik ibu mandi, supaya kita ke
sekolah bersama-sama.” kata Fajar kepada Ibunya. Setelah sampai di
sekolah, orang tua murid sudah berdatangan ke kelas 8h. Tidak lama
kemudian, Pak Rohman sebagai wali kelas segera membuka acara.
“
Selamat pagi bapak-bapak dan ibu-ibu, terima kasih atas kehadirannya
pada pagi hari ini dalam rangka Pembagian Laporan Hasil Belajar
Siswa- Siswi SMP Harapan Bangsa. Pertama-tama saya akan membacakan
nama 10 siswa yang termasuk peringkat 10 besar, peringkat 10 Viana, 9
Nila, 8 Bimo, 7 Chiko, 6 Dina, 5 Galih, 4 Raka, 3 Cathy, 2 Doni, dan
inilah yang ditunggu-tunggu. Peringkat 1 di kelas 8h ini juga
termasuk peringkat ke dua dari seluruh kelas 8 yang ada di SMP
Harapan Bangsa, ia bernama Fajar Immanuel Saputra. Dan akhirnya siswa
di kelas 8h , 100% naik kelas. Selamat untuk semua siswa kelas 8h
secara khusus yang mendapat peringkat 10 besar.”
“Fajar,
aku tidak menyangka kamu bisa mendapat peringkat 1 di kelas dan
peringkat 2 di sekolah. Kami sebagai teman hanya bisa mengucapkan
selamatya..” kata Cathy yang disambung ucapan selamat dari siswa
yang lain untuk Fajar.
Di
kelas XI, Fajar terus berprestasi. Ia sering mendapatkan
penghargaan, piagam, bahkan piala dari berbagai perlombaan. Fajar
menjadikan ucapan Pak Heru sebagai motivasi dan semangat belajar.
Pada
semester I, ia berhasil mendapatkan peringkat 1 di kelas 9a dan
peringkat 1 di SMP Harapan Bangsa. Begitu juga pada semester II.
“Ibu
tidak menyangka begitu hebatnya kamu nak,”
“Ini
belum selesai bu, aku masih harus menyelesaikan Ujian Nasional.”
“Berjuanglah
terus nak, demi mimpi yang kau cita-citakan.”
Hari
Ujian Nasional pun tiba, selama empat hari Fajar berjuang
habis-habisan demi kelululsan yang memuaskan. Ia berprinsip untuk apa
hanya sekedar lulus jika hasilnya tidak begitu memuaskan. Prinsip
itulah yang terus mengejar Fajar pada cita-citanya.
Sampai
pada harinya. Pengumuman kelulusan, Bapak Kepala Sekolah mengatakan
bahwa di SMP Harapan Bangsa terdapat siswa dengan nilai tertinggi di
DKI Jakarta.
“
Selamat pagi anak-anak, kita harus bersyukur, karena ada seorang
siswa yang telah mengangkat nama sekolah kita. Ia adalah siswa
dengan nilai ujian tertinggi di DKI Jakarta. Siswa itu berasal dari
kelas 9a , ia bernama Fajar Immanuel Saputra . Sekali lagi saya
sebagai Kepala Sekolah yang mewakili guru-guru, teman-teman, dan
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta mengucapkan selamat yang
sebesar-besarnya. Dan kepada Fajar diharapkan maju ke depan.” kata
pak Heru dari atas mimbar.
“Terima
kasih Tuhan, aku tahu aku bisa seperti ini karena Engkau yang
memimpinku. Keberhasilanku ini kupersembahkan untuk teman-temanku,
guru-guruku, dan keluargaku tercinta. Sekali lagi terima kasih.”
Akhirnya
Fajar lulus SMP menuju ke SMA dengan beasiswa yang diraihnya dan ia
tetap berusaha sampai mendapatkan apa yang dicita-citakan .
-SELESAI-