Jumat, 22 Juni 2012

Ku Bersyukur atas Hidupku



Sebuah keluarga kecil yang hidup kekurangan, keterbatasan ekonomi, dan juga teramat sederhana. Kepala keluarganya bernama Pak Yohanes, dia tinggal bersama istrinya bernama Ibu Maria, anak laki-lakinya bernama Fajar, dan anak perempuannya bernama Nina.

“Bu, kapan ya aku dan kakak bisa bersekolah lagi seperti dulu ?” tanya Nina kepada ibunya dengan nada sedikit sedih.
“Adik, kamu tidak boleh seperti itu, kita bisa makan setiap hari saja sudah syukur.” kata Fajar menasehati adiknya.

“Kakakmu benar Nina, kita harus bisa mensyukuri atas apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita, jika kamu ingin sekolah, kamu harus berusaha dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan.” ibu ikut memberi pengertian pada Nina.

“ Iya bu, sekarang Nina mengerti betapa pentingnya hidup bersyukur.”
Suatu ketika Fajar dan Nina sedang mengumpulkan botol-botol minuman bekas. Seoarang teman Fajar dulu saat bersekolah menghampiri Fajar dan adiknya.
“Hai, sedang apa kamu dan adikmu ditempat kotor seperti ini ?” kata teman Fajar yang bernama Cathy.
“Hai Cathy, aku sedang bekerja untuk mencukupi kebutuhanku dan keluargaku.”
“Aku begitu kagum kepadamu Fajar, saat bersekolah dulu kamu selalu membantu orang tuamu sepulang sekolah. Kamu begitu mandiri, sedangkan aku hanyalah siswi SMP yang masih manja.”
“Cathy, kamu tidak boleh berkata seperti itu, aku bekerja karena keluargaku kekurangan, jika kamu ingin bekerja, untuk apa ? Orang tuamu masih sanggup membiayaimu dan mencukupi semua kebutuhanmu.”
“Tetapi orang tuaku selalu meminta aku untuk mandiri.”
“Mungkin maksud orang tuamu seperti merapikan kamarmu. Walaupun kamu memiliki pembantu, tetapi kamarmu atau segala sesuatu milik pribadimu perlu kamu jaga dan rawat sendiri.

Mendengar perkataan Fajar, Cathy hanya bisa tertegun sambil merenung. “Iya, mungkin kamu benar. Memang selama ini aku tak pernah peduli terhadap barang-barangku.”
“Kak Fajar, ayo sudah sore, kita masih harus bekerja.” kata Nina yang sedari tadi diam berusaha mengingatkan kakaknya.

Lalu Fajar dan Nina pun berpamitan pada Cathy, lagipula sudah sore, Cathy juga harus pulang. Hari sudah malam, keluarga Pak Yohanes hanya bisa tidur di dalam gubuk kardus yang kecil dengan beralaskan koran, dingin malam yang menusuk kalbu sudah tak berarti lagi bagi keluarga itu.
Hari telah berganti, pagi-pagi buta, Fajar sudah bekerja memulung botol-botol minuman bekas. Sesekali ia melewati SMP Harapan Bangsa tempat ia bersekolah dulu. Fajar pun tidak jarang bertemu dengan teman - teman satu kelasnya dulu. Jika ditanya tentang keadaannya, Fajar selalu menjawab dengan jujur mengenai kondisi keluarganya. Ternyata teman- teman Fajar termasuk Cathy merasa iba dan simpati kepada Fajar dan keluarganya. Mereka berusaha mengumpulkan sumbangan untuk Fajar berupa uang, pakaian, atau makanan. Itu semua didapat dari siawa yang menyisihkan uang jajan, berjualan, ada pula yang meminta tambahan dari orang tua untuk membantu keluarga Fajar
Seminggu berlalu, Cathy dan kawan-kawan akan menghitung semua hasil jerih payah mereka selama satu minggu ini dan secara kebetulan Fajar melewati SMP Harapan Bangsa.
“Fajar.........” teriak Cathy dan teman-temannya. “Iya, ada apa ?” tanya Fajar kebingungan.
“Kami hanya ingin memberikan ini. Walapun hanya pakaian sederahana, makanan kecil dan sedikit uang. Semoga ini semua bisa sedikit membantu kamu dan keluarga kamu.” kata Doni.
“Oh iya, aku juga memiliki baju seragam SD, walapun bekas aku pakai, tetapi masih bagus, bisa digunakan untuk adik kamu.” kata Tina.

Pada hari Senin, Fajar dan Nina mulai bersekolah. Bersekolah kembali dan berkumpul bersama teman-teman. Sepertinya aku tidak ingin lagi meninggalkan kewajibanku bersekolah sebagai pelajar, Begitulah kata-kata yang terucap dalam batin Fajar.

Saat Fajar sampai di ruang kelas, Fajar disambut oleh teman-teman sekelasnya, “Selamat datang untuk Fajar di kelas 8h....” teriak Doni, ia adalah ketua kelas 8h. Tidak hanya Doni, teman-teman yang lain pun ikut menyambut kedatangan Fajar dengan spontan. Fajar seakan-akan tak dapat berkata-kata lagi. Dia sangat senang dan terharu atas apa yang telah diberikan teman-temannya. Pelajaran pertama dimulai. Seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bersekolah, ia belajar dengan sangat tekun.

Setelah bersekolah selama seminggu, ia sering mendapat pujian dari teman-teman bahkan guru-gurunya. Baik pujian dari nilainya yang bagus maupun sikapnya yang baik. Begitu pula dengan adiknya Nina. Ia begitu senang dengan kembalinya dia bersekolah. Nina juga disambut baik dengan teman-temannya. Tetapi lain halnya dengan Fajar, Nina tidak begitu memanfaatkan waktu belajarnya di sekolah dengan baik. Ia tumbuh sebagai pelajar yang biasa-biasa saja.
Hampir satu semester Fajar bersekolah lagi dan ia telah dikenal banyak guru dan teman-teman, ia terkenal karena kepandaiannya. Hingga pada suatu hari, Fajar dipanggil oleh Kepala Sekolah.
“Fajar, setelah bel masuk, kamu segera ke ruangan Bapak Kepala Sekolah, beliau ingin bertemu dengan mu.” kata pak Rohman sebagai wali kelas Fajar.
“Baik pak, tapi ada apa sebenarnya? Mengapa saya sampai harus berurusan dengan Kepaala Sekolah ?” Fajar heran bercampur ketakutan.
“Bapak tidak tahu, tetapi ada hal penting yang ingin dibicarakan bapak Kepala Sekolah pada kamu.” “Baiklah pak..”
Tepat pukul 06.30 bel masuk pun berbunyi, semua siswa-siswa ingin memasuki kelas terkecuali Fajar yang keluar kelas ingin menemui Bapak Kepala Sekolah. “Fajar, kamu mau kemana, sekarang kan sudah bel masuk, nanti kamu dimarahi oleh guru jika sudah bel masuk tapi kamu masih di luar kelas.” kata Doni mengingatkan Fajar. “Aku mau ke ruang Kepala Sekolah Don. Tadi sebelum bel masuk Pak Rohman memanggil aku dan menyuruh ku datang ke ruang Kepala Sekolah. Karena Kepala Sekolah ingin berbicara penting padaku.” “Baiklah, aku rasa itu bukan hal buruk karna kamu itu anak yang pintar dan baik.” “Oke, Terima kasih Don, aku pergi dulu..” kata Fajar sambil berjalan menuju ruang Kepala Sekolah

“Permisi Pak, selamat pagi” kata Fajar sambil mengetuk pintu ruangan Pak Heru yang adalah Kepala Sekolah SMP Harapan Bangsa. “Silahkan masuk.” kata Pak Heru dari dalam ruangan.
“Maaf Pak, ada apa saya dipanggil keruangan Bapak ?”
“Saya mau bertanya dan tolong kamu jawab sejujurnya.”
Fajar hanya tertunduk dan terdian. Ia makin cemas dan tegang, ia takut mendapat masalah dan tidak bisa bersekolah lagi.
“Dimana orang tuamu bekerja ?”
“Orang tua saya hanya bekerja sebagai pemulung Pak.” kata Fajar tertunduk.
“ Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung. Saya dengar dari banyak guru bahwa kamu anak yang baik, pandai, rajin, dan sopan.”
“Maaf pak, saya bersekolah disini karna bantuan dari teman-teman saya dan kerja keras orang tua saya. Saya tidak ingin mengecewakan mereka, jadi saya berusaha melakukan yang terbaik dengan belajar.”
“Kamu memang anak yang baik dan pandai. Saya berhak memberikan ini padamu.” ucap Pak Heru kagum sambil memberikan sebuah gulungan kertas. “Ini adalah beasiswa untukmu, sekolah akan menanggung semua keperluan sekolahmu selama kamu bersekolah disini, mungkin jika kamu berprestasi lebih lagi, sekolah akan membiayaimu sampai kamu SMA.”
“Pak, apa bapak tidak main-main dengan ucapan bapak ? Saya sangat senang, karena saya bisa sedikit mengurangi beban kedua orang tua saya.”
“Oh iya, hampir Bapak lupa. Ini Bapak ada sedikit rejeki, tolong kamu berikan pada orang tuamu, semoga bermanfaat untuk keluargamu nak. Titipkan salam Bapak untuk orang tuamu juga.”
“Baik Pak, sekali lagi saya berterima kasih, saya berjanji akan belajar lebih giat lagi untuk kedua orang tua saya.”
“Baik, sekarang kamu boleh kembali ke kelas kamu.”
“Terima kasih Pak. Selamat pagi.”
Kriiing... kriiing... kriiing.... Bel pulang telah berbunyi. Siswa-siswi pun berhamburan keluar kelas memadati pintu gerbang. Fajar pun segera pulang ke rumahnya, tak sabar ingin memberitahu berita bahagia ini pada orang tuanya.
“Siang bu... siang pak...”
“Siang nak, bapakmu belum pulang. Ada apa ini tidak seperti biasanya, hari ini nampak lebih ceria.”
“Ibu, Fajar mendapat beasiswa dari sekolah, yang berarti semua keperluan sekolah Fajar selama bersekolah akan di penuhi. Bahkan kata Pak Kepala Sekolah, jika Fajar terus berprestasi, Fajar akan dibiayai sampai SMA.”
“Wah, anak ibu memang pandai. Nina harusnya kamu bisa seperti kakakmu.”
“Baiklah bu, Nina akan belajar supaya bisa seperti kak Fajar.” kata Nina yang sambil melirik ke Fajar yang sejak tadi tertawa kegirangan.

Hari sudah sore, Fajar sedang membantu Ibu menjual botol-botol bekas. Hingga pada malam hari tiba saatnya Fajar belajar di tempat seadanya. Di rumput beralaskan koran dengan penerangan lilin seadanya. Walaupun dengan kondisi begitu, itu tidak mematahkan semangat Fajar untuk belajar.

Lain halnya dengan Nina, ia masih sedikit malas belajar, mungkin dalam satu hari ia hanya menghabiskan waktu belajar 2 jam di rumah. Sangat berbeda jauh dengan Fajar yang kemana-mana selalu membawa buku pelajaran.

Mentari pagi mulai bersinar, seperti biasanya setelah bangun tidur, Fajar dan Nina telah terbiasa berdoa. Setelah itu mereka bergegas mandi, sarapan lalu berangkat ke sekolah. Karena sekolah Nina dekat, ia berangkat dengan berjalan kaki. Sedangkan Fajar berangkat naik sepeda yang baru dibelinya menggunakan hasil dari ia menabung.

Besok adalah hari pembagian Laporan Hasil Belajar di SMP Harapan Bangsa. Semua wali murid wajib hadir untuk mengambil LHB milik anaknya masing-masing. Pada saat pembagian LBH, wali kelas akan mengumumkan siswa yang masuk peringkat 10 besar.
“ Bu, hari ini ada pembagian LHB, lebih baik ibu mandi, supaya kita ke sekolah bersama-sama.” kata Fajar kepada Ibunya. Setelah sampai di sekolah, orang tua murid sudah berdatangan ke kelas 8h. Tidak lama kemudian, Pak Rohman sebagai wali kelas segera membuka acara.
“ Selamat pagi bapak-bapak dan ibu-ibu, terima kasih atas kehadirannya pada pagi hari ini dalam rangka Pembagian Laporan Hasil Belajar Siswa- Siswi SMP Harapan Bangsa. Pertama-tama saya akan membacakan nama 10 siswa yang termasuk peringkat 10 besar, peringkat 10 Viana, 9 Nila, 8 Bimo, 7 Chiko, 6 Dina, 5 Galih, 4 Raka, 3 Cathy, 2 Doni, dan inilah yang ditunggu-tunggu. Peringkat 1 di kelas 8h ini juga termasuk peringkat ke dua dari seluruh kelas 8 yang ada di SMP Harapan Bangsa, ia bernama Fajar Immanuel Saputra. Dan akhirnya siswa di kelas 8h , 100% naik kelas. Selamat untuk semua siswa kelas 8h secara khusus yang mendapat peringkat 10 besar.”

“Fajar, aku tidak menyangka kamu bisa mendapat peringkat 1 di kelas dan peringkat 2 di sekolah. Kami sebagai teman hanya bisa mengucapkan selamatya..” kata Cathy yang disambung ucapan selamat dari siswa yang lain untuk Fajar.

Di kelas XI, Fajar terus berprestasi. Ia sering mendapatkan penghargaan, piagam, bahkan piala dari berbagai perlombaan. Fajar menjadikan ucapan Pak Heru sebagai motivasi dan semangat belajar.

Pada semester I, ia berhasil mendapatkan peringkat 1 di kelas 9a dan peringkat 1 di SMP Harapan Bangsa. Begitu juga pada semester II.

“Ibu tidak menyangka begitu hebatnya kamu nak,”
“Ini belum selesai bu, aku masih harus menyelesaikan Ujian Nasional.”
“Berjuanglah terus nak, demi mimpi yang kau cita-citakan.”
Hari Ujian Nasional pun tiba, selama empat hari Fajar berjuang habis-habisan demi kelululsan yang memuaskan. Ia berprinsip untuk apa hanya sekedar lulus jika hasilnya tidak begitu memuaskan. Prinsip itulah yang terus mengejar Fajar pada cita-citanya.
Sampai pada harinya. Pengumuman kelulusan, Bapak Kepala Sekolah mengatakan bahwa di SMP Harapan Bangsa terdapat siswa dengan nilai tertinggi di DKI Jakarta.
“ Selamat pagi anak-anak, kita harus bersyukur, karena ada seorang siswa yang telah mengangkat nama sekolah kita. Ia adalah siswa dengan nilai ujian tertinggi di DKI Jakarta. Siswa itu berasal dari kelas 9a , ia bernama Fajar Immanuel Saputra . Sekali lagi saya sebagai Kepala Sekolah yang mewakili guru-guru, teman-teman, dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya. Dan kepada Fajar diharapkan maju ke depan.” kata pak Heru dari atas mimbar.
“Terima kasih Tuhan, aku tahu aku bisa seperti ini karena Engkau yang memimpinku. Keberhasilanku ini kupersembahkan untuk teman-temanku, guru-guruku, dan keluargaku tercinta. Sekali lagi terima kasih.”
Akhirnya Fajar lulus SMP menuju ke SMA dengan beasiswa yang diraihnya dan ia tetap berusaha sampai mendapatkan apa yang dicita-citakan .



-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar